Senin, 29 Juni 2009

Segelas air VS air danau yang jernih

Cerita ini diawali dari kisah seorang pemuda yang terlihat murung dan terlihat banyak beban dihati dan pikirannya, sehigga badannya tak sanggup menegakkan kepala pemuda tersebut. Pemuda tersebut pun langsung duduk pada akar pohon yang menjulang keluar, dan menjadi tempat duduk yang nyaman buat pemuda tersebut sambil menyandarkan badannya ke batang pohon yang berdiri kokoh.

Tidak lama kemudian, datang seorang guru yang mendekati pemuda tersebut dan bertanya : wahai pemuda, kenapa kamu disini?dan kelihatannya kamu lagi sedih dan banyak masalah yang kamu hadapi!!!

Itu bukan urusan kamu! Jawabnya sambil menundukan kepalanya, seakan pemuda tersebut sudah tidak mampu menegakkan kepalanya. Jangan begitu, mugkin saya bisa membantu kamu, ucap sang guru. “ nggak,,,, guru tak akan mampu mengurangi bahkan menghilangkan masalah yang sedang aku hadapi, seakan masalah ini tidak mau pergi dari dalam hidupku”, saut sang pemuda.

Wahai pemuda tolong ambillah dua genggam garam dan 1 gelas air. Pergilah pemuda tersebut ke warung yang ada didekat danau yang jernih tesebut. “ini garam dan airnya, guru…..”. kemudian sang guru menyuruh pemuda tersebut untuk memasukkan segenggam garam di tangan kananya kedalam gelas yang berisi air dan kemudian sang guru menyuruh pemuda tersebut untuk meminum air dalam gelas itu.

Sang pemuda pun menuruti apa yang di perintahkan sang guru. Pada tegukan yang pertama, pemuda tersebut langsung memuntahkan air ke tanah. Kenapa? Tanya sang guru. “Asin sekali guru….”jawab pemuda tersebut.

Karena rasa asin dilidahnya tidak hilang-hilang, kemudian pemuda tersebut lari kedanau dan meminim air danau yang jernih dan langsung dari mata air tersebut untuk megobati rasa asin dilidahnya. Setelah satu…dua….tiga teguk air danau diminum, baru hilang rasa asin dilidah pemuda tersebut. Sang guru pun mendekati pemuda tersebut di tepi danau.

“Hai, Pemuda lemparkankan garam yang ada di genggaman tangan kirimu ke danau itu” .kata sang guru. Dilemparlah segenggam garam tersebut kedanau dan sang guru pun menyuruh sang pemuda untuk meminum air danau tersebut. Setelah di minum, pemuda tersebut berkata “ airnya tidak terasa asin, guru” tetap segar.”. sang pemuda pun mengambil air tersebut dengan kedua telapak tangannya untuk di minum sampai hilang rasa asin yang mungkin masih terasa dilidah.

Sang guru pun mengajak pemuda tersebut duduk di tepi danau dan berkata “ wahai pemuda, garam tadi adalah ibarat maslah yang kamu hadapi, dimana danau dan gelas adalah ibarat hati yang ada dalam diri kamu. Semakin lebar hati kamu dalam menerima suatu masalah, maka kamu tidak akan merasakan masalah tersebut dan begitu pula sebaliknya.

Pesan moral : banyaklah berbagi masalah yang kamu alami dengan orang lain, karena semakin lebar wadah (danau) kamu untuk menebar masalah (garam) tersebut maka masalah tersebut tidak akan terasa dan semakin mudah kamu menghadapinya.

LENTERA MENYALA DI TEPI PANTAI

Sumbu lentera akan terus menyala, ketika lentera minyaknya sudah habis.

Sebuah lentera akan tetap menyala meskipun minyaknya sudah habis. Artinya sebuah kegiatan apapun yang pernah kita jalani bersama teman-teman dekat kita, maka hal itu akan terkenang selalu meskipun kegiatan itu sudah lama berakhir. Namun bagaimana kita bisa mengenang hal itu dengan indah???(bukan indah anaknya pak bagus lho….). Kita harus menjalani kegiatan tersebut dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan keiklasan, maka kita akan mampu menciptakan keindahan yang patut kita kenang sepanjang hidup kita.

Lentera ini menyala di tepi pantai teleng ria, pacitan Jawa timur (10 Mei 2008). Nyala api yang menerangi lagit malam itu mampu memberi kehangatan di sela-sela hembusan angin pantai dimalam hari. Kehangatan itu menjadi panas ketika teman-teman mulai bersaing untuk menjadi bara api yang terpanas (biasa adu ajang kreatifitas). Api yang terus menyala itu menandakan api lentera yang diharapkan mampu menghangatkan semangat para generasi pembawa lentera estafet berikutnya.

Meskipun nyala api dimalam hari sudah padam, namun api semangat tetap berkobar dijiwa para generasi lentera di pagi harinya. Yups…..bener sekali!! Bermain bola ditepi pantai sambil menikmati hangatnya sinar matahari yang mulai muncul di balik bukit disebelah timur. Inilah pertama kali saya bermain bola di tepi pantai bersama temen2 generasi lentera. Melihat asyiknya bermain bola di tepi pantai, membuat saya langsung pingin ikut. Yah……meskipun aku tidak bisa bermain bola dengan baik, tapi saya menikmati kebersamaan di pagi itu.

Itu adalah salah satu kegiatan di pacitan yang pernah saya ikuti bersama-sama temen2 yang LUAR BIASA!!!. Namun sekarang saya hanya bisa mengenang hal itu dengan membuka kembali lembaran foto yang tersimpan rapi di hardisk si COCOM (sebutan computer aku tercinta). Eeeeeee….. kok ada salah satu foto yang sangat mengesankan ya……..

Ya, benar sekali. Dalam foto itulah yang mampu menyalakan api semangat dalam kehidupan sehari-hariku setelah api lentera padam di pantai teleng ria pacitan. Buat saya api lentera tersebut tidak akan pernah padam, meskipun kehabisan minyak dan bahkan sumbu sudah lepas dari tempatnya. SEMOGA.!!!!!

menyallah terus lentera

kobarkan api semangat

para generasi muda

peraih asa